Rabu, 21 Desember 2016

Memori Ketenangan Dalam Alat Musik Pikon

Seni musik memang kerap menjadi bagian dari identitas sebuah suku, yang lahir dari ekspresi perasaan individu para leluhur kreatif, pencipta barang-barang seni yang di dalamnya mereka tiupkan nyawa keindahan bebunyian nada dan menghidupkan beragam momentum tentang apa saja yang telah mereka titipkan sebelumnya dalam nada-nada memori. Suku di Lembah Baliem ini pun telah diwariskan identitas leluhur dalam berseni musik berupa alat musik tradisional bernama Pikon.
Alat Musik Pikon  Yang Dimainkan Foto  Facebook Erick Walela
Pikon berasal dari kata Pikonane, yang dalam bahasa Lokal artinya alat musik bunyi. Pikon merupakan alat musik tradisional khas suku Hubula yang biasa dimainkan oleh kaum pria saat beristirahat setelah lelah bekerja seharian atau ketika bersantai di rumah Honai. Suara yang dihasilkan oleh Pikon sebenarnya tidaklah merdu, malahan cenderung sumbang. Hal ini wajar karena pada awalnya, Pikon tidak dibuat sebagai alat musik romantis. Pikon hanya digunakan sebagai penghilang penat sehingga suara yang dihasilkan pun lebih mirip suara kicau burung yang tak bernada. Pikon lebih memilih posisi untuk diingat sebagai alat musik penenang. Namun, seiring berkembangnya jaman, kini suara yang dihasilkan oleh Pikon mulai dapat terdengar sebagai nada do, mi dan sol.
Wujud dari Pikon itu sendiri adalah ukurannya yang kecil, kurang lebih hanya sebesar satu genggaman orang dewasa. Terbuat dari sebilah bambu dengan bentuk yang bulat lonjong. Terdapat seutas tali yang dipasang cukup kencang dan terikat pada sepotong lidi penggetar pada bagian tengah potongan bambu. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu lidi bagian pangkal ditarik, potongan penggetar akan bergetar dan akhirnya akan mengeluarkan suara.
Pikon adalah alat musik yang cukup spesifik. Tidak sembarang orang dapat memainkan alat ini karena cara memainkannya yang cukup rumit. Namun, kerumitannya inilah yang membuat Pikon menjadi otentik dan istimewa. Bahkan, tidak semua orang Indonesia tahu jika ada alat musik khas Papua yang bernama Pikon.
Jika kamu ingin mendengar permainan alat musik Pikon secara langsung, bahkan ingin mencoba untuk memainkannya, maka FBLB (Festival Budaya Lembah Baliem) ke-27 yang akan dilaksanakan pada tanggal 08-10 Agustus 2016 adalah salah satu kesempatan emas bagi kamu untuk mengenal lebih dalam akan budaya dan adat-istiadat masyarakat Lembah Baliem. Segala informasi mengenai FBLB dapat kamu telusuri di website resmi FBLB 2016 www.festivalbudayabaliem.com  
Sumber referensi : indonesiakaya.com


Ayob Inubat
Ayob Inubat

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

Tidak ada komentar: