Seni musik memang
kerap menjadi bagian dari identitas sebuah suku, yang lahir dari ekspresi
perasaan individu para leluhur kreatif, pencipta barang-barang seni yang di
dalamnya mereka tiupkan nyawa keindahan bebunyian nada dan menghidupkan beragam
momentum tentang apa saja yang telah mereka titipkan sebelumnya dalam nada-nada
memori. Suku di Lembah Baliem ini pun telah diwariskan identitas leluhur dalam
berseni musik berupa alat musik tradisional bernama Pikon.
Pikon berasal dari kata Pikonane, yang dalam bahasa
Lokal artinya alat musik bunyi. Pikon merupakan alat musik tradisional khas
suku Hubula yang biasa dimainkan oleh kaum pria saat beristirahat setelah lelah
bekerja seharian atau ketika bersantai di rumah Honai. Suara yang dihasilkan
oleh Pikon sebenarnya tidaklah merdu, malahan cenderung sumbang. Hal ini wajar
karena pada awalnya, Pikon tidak dibuat sebagai alat musik romantis. Pikon
hanya digunakan sebagai penghilang penat sehingga suara yang dihasilkan pun
lebih mirip suara kicau burung yang tak bernada. Pikon lebih memilih posisi
untuk diingat sebagai alat musik penenang. Namun, seiring berkembangnya jaman,
kini suara yang dihasilkan oleh Pikon mulai dapat terdengar sebagai nada do, mi
dan sol.
Wujud dari Pikon itu sendiri adalah ukurannya yang
kecil, kurang lebih hanya sebesar satu genggaman orang dewasa. Terbuat dari
sebilah bambu dengan bentuk yang bulat lonjong. Terdapat seutas tali yang
dipasang cukup kencang dan terikat pada sepotong lidi penggetar pada bagian
tengah potongan bambu. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu lidi bagian pangkal
ditarik, potongan penggetar akan bergetar dan akhirnya akan mengeluarkan suara.
Pikon adalah alat musik yang cukup spesifik. Tidak
sembarang orang dapat memainkan alat ini karena cara memainkannya yang cukup
rumit. Namun, kerumitannya inilah yang membuat Pikon menjadi otentik dan
istimewa. Bahkan, tidak semua orang Indonesia tahu jika ada alat musik khas
Papua yang bernama Pikon.
Jika kamu ingin mendengar permainan alat musik
Pikon secara langsung, bahkan ingin mencoba untuk memainkannya, maka FBLB
(Festival Budaya Lembah Baliem) ke-27 yang akan dilaksanakan pada tanggal 08-10
Agustus 2016 adalah salah satu kesempatan emas bagi kamu untuk mengenal lebih
dalam akan budaya dan adat-istiadat masyarakat Lembah Baliem. Segala informasi
mengenai FBLB dapat kamu telusuri di website resmi FBLB 2016 www.festivalbudayabaliem.com
Sumber referensi
: indonesiakaya.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar